Kata-kata atau istilah kepulauan "tanpa negara" itu sendiri gw dapatkan dari tulisan di kaos guide gw selama disana. Mereka pemuda-pemuda Kangean (salah satunya guide gw yang bernama mas Sanawi) menyebut daerah mereka dengan istilah "tanpa negara" dalam kaos yang mereka bikin sebagai suatu ungkapan yang mungkin sedikit terlihat akan nada pemberontakan. ya pemberontakan dimana sesungguhnya rakyat kepulauan Kangean berharap mereka dapat berdiri sendiri sebagai suatu kabupaten. Sebagai informasi sesungguhnya memang letak kepulauan Kangean agak sedikit membingungkan kemana mereka harus ikut jika tidak berdiri sendiri sebagai suatu kabupaten. Kepulauan Kangean terletak di perairan yang merupakan perbatasan antara laut Jawa dan laut Bali, terletak di sebelah timur pulau Madura dan sebelah utara pulau Bali bahkan mereka juga dekat dengan Pulau Kalimantan di sebelah utara dan Pulau Sulawesi di sebelah timur.
Peta Kepulauan Kangean
Secara administratif memang kepulauan Kangean menjadi salah satu wilayah dari Kabupaten Sumenep di Madura namun secara ekonomi nyatanya dari beberapa obrolan gw dengan beberapa warga Kangean kondisi ekonomi mereka justru banyak disumbangkan oleh Bali kecuali dalam urusan BBM yang dimana secara aturan memang harus beli di Sumenep sedangkan untuk urusan lain mereka merasa dipersulit oleh kabupaten Sumenep. oleh karena itu akibat merasa dianak-tirikan banyak masyarakat Kangean berharap dengan segala sumber daya yang mereka miliki mereka dapat berdiri sendiri sebagai suatu kabupaten.
Masyarakat di kepulauan Kangean ini cukup beragam mulai dari suku madura, jawa, bali, kalimantan, bugis hingga suku bajo si anak laut ada disini. Suku-suku tersebut tersebar di seluruh pulau-pulau yang ada di kepulauan Kangean dan membentuk komunitas-komunitas tersendiri di pulau-pulau tertentu. contohnya di pulau Kangean yang merupakan pulau utama dan pulau Paliat mayoritas masyarakatnya merupakan suku madura (karena lokasi nya yang paling barat dekat dengan Sumenep), Pulau Sapeken dihuni oleh mayoritas suku Bugis dan Bajo sedangkan pulau-pulau lain dihuni oleh campuran dari suku-suku yang gw sebutkan diatas. jadi jangan heran jika kita keliling ke pulau-pulau di Kepulauan Kangean kita akan mendengar bahasa-bahasa yang berbeda di tiap pulaunya hal itu dikarenakan perbedaan suku-suku yang menetap di pulau tersebut.
Dari keseluruhan pulau yang ada di kepulauan Kangean, pulau Kangean dan pulau Sapeken merupakan pulau terbesar dan terpadat di kepulauan ini. Pulau Kangean merupakan pulau terbesar dan pulau utama dari seluruh pulau di kepulauan ini, di pulau ini telah terdapat sekolah tinggi setingkat universitas dan fasilitas-fasilitas umum lainnya seperti GOR dan pom bensin. Sedangkan pulau Sapeken merupakan pulau paling padat bahkan bisa dibilang super padat. Rumah-rumah dsini sudah seperti rumah-rumah di pulau jawa kebanyakan dengan tingkat kepadatan yang sangat tinggi sehingga hanya menyisakan gang-gang sebagai jalan utama di pulau ini. Awalnya begitu turun di pulau ini gw cukup kaget dapat melihat pulau sepadat ini di negri antah-berantah seperti Kepulauan Kangean ini, bahkan gw hampir saja kesasar sewaktu ingin mencari info kapal untuk kepulangan gw dari Kangean (akan gw ceritakan di part 2). Ternyata jika dilihat dari sejarah pulau ini merupakan pulau transit kapal-kapal dari Jawa timur (Madura) yang akan menuju Bali, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua, jadi tidak heran hingga akhirnya pulau ini menjadi pulau yang paling padat dibanding pulau lainnya. Bukan hanya toko-toko yang menjual kebutuhuan pokok yang akan kita temui di pulau Sapeken tapi juga toko-toko kebutuhan sekunder seperti counter pulsa, toko alat-alat olahraga hingga jasa foto digital dapat ditemui di pulau ini.
Kampung di Pulau Sapeken
Kepulauan Kangean ini bisa dibilang cukup kaya, mulai dari hasil laut, minyak,gas bumi (mereka punya offshore di sekitar pulau pengerungan di bawah pengelolaan Kangean Energy Indonesia) kerbau hingga ayam bekisar (ayam bekisar yang terkenal itu ternyata berasal dari sini).Yang cukup unik dari masyarakat kepulauan Kangean adalah walau mereka daerah kepulauan tapi mayoritas penduduk mereka bekerja di sektor pertanian dan beberapa memilih menjadi TKI di luar negeri. Lagi-lagi alasan pendapatan yang lebih besar menjadi TKI membuat masyarakat Kangean lebih memilih mengadu nasib di negeri orang ketimbang negri sendiri. Memang dari bukti yang ditunjukkan oleh guide kita mas Sanawi bahwa beberapa rumah yang cukup besar disana hampir seluruhnya merupakan hasil bekerja sebagai TKI sehingga jangan heran jika melihat rumah-rumah cukup modern disana tapi isinya kosong karena penghuninya bekerja di luar negri sebagai TKI.
Jika dilihat secara keseluruhan memang kepulauan Kangean ini lagi-lagi menjadi contoh sebagai suatu daerah kaya yang salah dalam manajemennya seperti kebanyakan daerah di Indonesia. listrik yang hanya menyala dari jam 6 sore hingga jam 6 pagi, jalan-jalan yang rusak hingga sulitnya akses transportasi ke Kepulauan ini menjadi bukti betapa disia-siakannya daerah ini oleh kabupaten induk mereka yaitu kabupaten Sumenep jadi sangat wajar hampir setiap orang lokal Kangean yang gw ajak ngobrol memiliki impian bahwa Kangean dapat berdiri sendiri sebagai suatu kabupaten dan mungkin impian warga lokal Kangean tersebut akan terwujud dalam beberapa tahun kedepan karena saat ini sedang dalam tahap proses pembahasan mengenai pemekaran Kangean sebagai satu kabupaten tersendiri. Semoga dengan terwujudnya pemekaran tersebut Kangean dapat mengikuti jejak Kutai di Kalimantan Timur yang dapat maju menjadi suatu daerah kaya.

This comment has been removed by the author.
ReplyDeletetetaplah berkarya tapi dengan karya yang sesuai realita.karena kmi jg bercita-cita sama.
ReplyDelete